PANEN PADI PERDANA BUM DESA WAWOANGI

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selamat Datang di Portal Tenaga Pendamping Profesional Kabupaten Buton Selatan

Berita Terbaru

Penerimaan Beasiswa Dana Desa Tahun 2026 di Desa Bahari Dua, Dukung Pendidikan dan Prestasi Generasi Muda

TPPBusel – Pemerintah Desa Bahari Dua, Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan, menyalurkan beasiswa yang bersumber dari Dana Desa Tahu...

Rabu, 31 Maret 2021

Kecamatan Batuatas Launching Pendataan Pemutakhiran Data SDGs Desa

Batuatas - InfoBusel || Launching  pemutakhiran data SDGs Desa se- Kec.  Batuatas di lakukan di gedung serba guna Desa Wacuala pada Hari Sabtu, 27 Maret 2021 pukul 13.30 WITA  yg di hadiri oleh Camat, BPD dan semua tim pendata se- Kec  Batuatas yang berjumlah 87 personil 

Dalam kesempatan tersebut, Camat Batuatas La Adilao, S.Pd dalam sambutannya menyampaikan agar dalam pendataan di lakukan secara ikhlas dan jujur karena jujur itu HEBAT maka jadilah orang HEBAT.


Penulis : Wa Ode Halfiani, S.Pi (PDP Kec. Batuatas)

 

Selasa, 30 Maret 2021

Pemda Busel Launching Pendataan SDGs Kec. Batauga

Batauga - InfoBusel || Sejumlah desa di Kabupaten Buton Selatan mulai melakukan pemutakhiran data Sustainable Development Goals (SDGs). Hari ini, Selasa, 30 Maret 2021, Pemerintah Daerah  me-launching relawan pendataan SDGs Desa untuk Kecamatan Batauga yang dipusatkan di Gedung Serbaguna Desa Lawela.

Launching dilakukan oleh Bupati Buton Selatan, H. La Ode Arusani diwakili Asisten III Setda Buton Selatan, Laode Harwanto, S.Pd., M.Si. Turut hadir Kepala Dinas PMD Ahmad Syahroni, SE, Kepala Dinas Kominfo, Tenaga Pendamping Profesional (Tenaga Ahli Pemberdayan Masyarakat, Pendamping Desa, dan Pendamping Lokal Desa) dan utusan tim pendata dari desa se-Kecamatan Batauga.

Bupati dalam sambutannya yang dibacakan Asisten III mengatakan, saat ini semua desa di Indonesia termasuk di Kabupaten Buton Selatan tengah melaksanakan pemutakhiran data SDGs sebagai salah satu dokumen pendukung dalam penetapan Indeks Desa Membangun (IDM) guna mendukung pembangunan berkelanjutan.

Selanjutnya, penetapan status ini akan menjadi dasar penghitungan pengalokasian dana desa tahun 2022. Untuk itu, semua pihak termasuk para kepala desa agar menyukseskan pendataan SDGs ini.

"Saya sudah mendengar informasi bahwa pelaksanaan pendataan SDGs di Kabupaten Buton Selatan sedikit berbeda dengan 14 kabupaten lainnya di Sultra. Dimana kabupaten lain hanya fokus melakukan pendataan sesuai dengan aplikasi SDGs yang telah disediakan oleh Kementerian Desa PDTT. Namun di Buton Selatan, tim tenaga ahli telah memformulasi format pendataan SDGs tersebut sehingga kebutuhan data yang dibutuhkan SKPD juga dapat terjawab," katanya.

Dengan begitu, ide tim tenaga ahli di Kabupaten Buton Selatan ini akan membantu pemerintah daerah dalam mewujudkan ketersediaan data sehingga satu data untuk Kebupaten Buton Selatan dapat terwujud.

"Terima kasih kepada Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Buton Selatan yang telah mampu mengkoordinir dan mengendalikan semua pendamping desa sehingga pelaksanaan pembangunan desa dapat terlaksana dengan baik," katanya.

Bupati juga mengucapkan selamat menjalankan tugas pendataan SDGs kepada seluruh tim pendata se-Kecamatan Batauga. Semoga semua tahapan pendataan dapat terlaksana dengan baik untuk kepentingan pembangunan yang berkelanjutan di Buton Selatan.


Penulis : La Taane (TA TTG/PIC MIP Buton Selatan)

 

Senin, 29 Maret 2021

Bupati Buton Selatan Serahkan Bantuan Kapal Nelayan dari Dana Desa di Waindawula

Siompu - InfoBusel || Dalam kunjungannya di Desa Waindawula, selain melaunching penanaman jeruk Siompu, Bupati Buton Selatan H. La Ode Arusani didampingi Ketua Penggerak PKK Buton Selatan Hj. Wa Ode Ruhania Arusani juga menyerahkan bantuan bodi katinting kepada nelayan Desa Waindawula Kecamatan Siompu, Sabtu, 27 Maret 2021.

Sebanyak 6 unit kapal nelayan yang diserahkan merupakan Program Dana Desa Waindawula tahun 2021 tahap pertama dari perencanaan yang seluruhnya 20 unit bantuan dalam bentuk Bodi Katinting.

Ditemui seusai penyerahan, Kepala Desa Waindawula Sudirman menjelaskan bahwa kegiatan Dana Desa tahun 2021 selain diarahkan pada kegiatan pelayanan sosial dasar, dana desa juga diarahkan pada kegiatan penguatan ekonomi masyarakat berupa PKTD, BLT Dana Desa dan bantuan bodi katinting kepada nelayan.

Sudirman bilang, bantuan bodi katinting yang diserahkan saat ini baru sejumlah 6 unit dari total 20 unit yang diprogramkan, hal ini dikarenakan Dana Desa bertahap penyalurannya ke desa sehingga nanti akan dilanjutkan lagi ditahap berikutnya.

Menurutnya, dari total 20 unit yang diberikan kepada nelayan ini masih kurang, dari hasil pengamatannya di lapangan masih banyak nelayan yang membutuhkan kapal seperti ini sehingga kedepannya program bantuan kapal nelayan akan masih diprogramkan di tahun-tahun berikutnya.

Kepala Desa dua periode ini menguraikan komitmennya dalam menyukseskan program dana desa, menurutnya apa yang diprogramkan saat ini merupakan upaya melaksanakan arahan prioritas Dana Desa tahun 2021.

Dalam arahan Kementerian Desa PDTT lanjutnya, Dana Desa 2021 diarahkan pada kegiatan kegiatan pemulihan ekonomi nasional, pelaksanaan prioritas nasional dan adaptasi kebiasaan baru, sehingga dalam melaksanaan petunjuk tersebut lanjutnya desa Waindawula melaksanakan program PKTD, BLT Dana Desa, Konvergensi pencegahan stunting, pendataan SDGs, Pelayanan sosial dasar lainnya dan Bantuan Kapal Nelayan berupa Bodi Katinting.

Lebih lanjut Sudirman menyampaikan terima kasihnya kepada Bupati Buton Selatan H. La Ode Arusani telah bersedia hadir di tengah-tengah masyarakat Desa Waindawula. Baginya, kehadiran Bapak Bupati Buton Selatan merupakan support bagi masyarakat desanya untuk terus giat menyukseskan pembangunan di Buton Selatan. "Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Bupati hadir ditengah-tengah kami, ini merupakan sebuah support bagi kami untuk terus berbuat mensukseskan pembangunan desa dan Buton Selatan" terangnya. (asl87)


Pewarta : La Ode Ahmad Saleh

Editor     : La Taane

 

Sabtu, 27 Maret 2021

Bupati Busel Launching Penanaman Jeruk Siompu pada Kegiatan PKTD Desa Waindawula


Siompu - InfoBusel
|| Bupati Buton Selatan H. La Ode Arusani secara simbolis menanam pohon jeruk Siompu di Desa Waindawula, Kecamatan Siompu, Sabtu, 27 Maret 2021.

Kegiatan penanaman jeruk Siompu yang dilaunching oleh Bupati Buton Selatan ini merupakan kegiatan program Padat Karya Tunai Desa (PKTD) yang dibiayai melalui Dana Desa Waindawula tahun 2021.

Berdasarkan anggaran pendapatan dan belanja desa Waindawula tahun 2021, Kegiatan Padat Karya Tunai desa (PKTD) diarahakan pada kegiatan pembersihan lahan dan pemeliharaan perkebunan jeruk Siompu.

Kepala Desa Waindawula Sudirman, menjelaskan bahwa kegiatan program padat karya tunai yang dilakukan saat ini berdasarkan hasil musyawarah desa tahun 2020 sehingga dituangkan dalam APBDes 2021.

Menurutnya apa yang diprogramkan saat ini merupakan program Dana Desa dalam upaya melaksanakan salah satu arahan prioritas Dana Desa tahun 2021.

Dalam arahan Kementerian Desa PDTT lanjutnya, PKTD merupakan upaya pelaksanaaan SDGs desa dalam memberikan penguatan ekonomi masyarakat desa, terlebih di masa sulit pandemi Covid-19.

Kata Sudirman, Jumlah bibit yang akan ditanam di tahun 2021 ini merupakan jeruk asli Siompu dengan jumlah 1.500 pohon, keterbatasan bibit Jeruk menjadi kendala sehingga ditahun ini baru 1.500 pohon yang akan ditanam terangnya. 

Lanjutnya, kedepan kegiatan pembiakan Jeruk Siompu akan terus menjadi perhatian pemerintah desa,  Kegiatan penanaman jeruk yang dilakukan saat ini merupakan wujud komitmen pemerintah desa Waindawula dalam upaya melestarikan jeruk Siompu yang merupakan jeruk Ikon Pulau Siompu kata Kepala Desa dua periode ini.


Pewarta : La Ode Ahmad Saleh (PDP Kec. Siompu)

Editor     : La Taane

Ini Ukuran Kesuksesan Pembangunan di Daerah Menurut Gus Menteri

Kepahiang - InfoBusel || Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar bersama Nyai Lilik Umi Nashriyah menyambangi Desa Sidorejo, Kecamatan Kabawetan di Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, Kamis (25/3/2021).

Di Desa Sidorejo, Gus Menteri, sapaan akrabnya, dijamu di Guest House Desa Sidorejo yang merupakan aset milik Pemerintah Kabupaten  Kepahiang tapi dikelola oleh BUMDes Sidorejo.

Dalam arahannya, Gus Menteri mengatakan, kunci pembangunan di Indonesia itu ada di desa. Jika ingin lndonesia maju maka desanya harus dimajukan.

"Seperti dikatakan Presiden Jokowi yaitu membangun Indonesia dari pinggiran yaitu desa, diselesaikan di desa dan keberhasilan agregatifnya dirasakan oleh level di atasnya," kata Gus Menteri.

Salah satu ukuran kesuksesan pembangunan daerah adalah menurunnya secara signifikan  angka kemiskinan. Ini akan mudah jika basisnya desa karena dananya juga sudah ada. Tinggal bagaimana cara pemerintah daerah melakukan pengawasan secara serius terhadap penggunaan dana desa agar penggunaan sesuai target pembangunan dan visi misi Presiden.

"Jika kemiskinan di desa menurun maka pasti kemiskinan di tingkat kabupaten juga akan turun," kata Gus Menteri.

Untuk itulah, Kemendes PDTT mengeluarkan arah kebijakan pembangunan desa dalam SDGs Desa yang berbicara soal Desa Tanpa Kemiskinan, tanpa kelaparan, pendidikan berkualitas, ramah perempuan hingga poin ke-18 yaitu Lembaga Desa Dinamis dan Budaya Desa Adaptif.

Ini artinya, kata Gus Menteri, pembangunan di desa harus senantiasa bertumpu ke akar budaya.

Arah ini telah bagus tinggal Kabupaten Kepahiang memanfaatkan dana desa sebesar Rp869 miliar diprioritaskan ke kemiskinan, pendidikan berkualitas dan ketiga desa sehat dan sejahtera.

"Ini tiga hal ini menjadi fokus maka saya yakin dalam waktu lima tahun akan menjadi percepatan keberhasilan pembangunan," kata Gus Menteri.

Gus Menteri mengatakan, meski ada Covid-19, seharusnya Dana Desa tidak terlalu tergerus karena perhitungan Kemendes PDTT, Dana Desa untuk Covid-19 tidak lebih dari 8 persen. Kemudian untuk BLT tidak lebih dari 20 persen.

Selebihnya, desa bisa menggunakan untuk pembiayaan infrastruktur dengan menggunakan pola padat karya tunai desa (PKTD).

Di Desa Sidorejo, selain diperlihatkan Guest House, Gus Menteri juga diperlihatkan produksi BUMDes seperti Kopi Khas Sidorejo dan Batik Khas Kepahiang yang disebutnya sarat makna.

Gus Menteri pun diperlihatkan Kawasan Wisata Kepahiang Mountain Valley yang dikelola BUMDes dan Air Terjun.

Turut hadir dalam kunjungan ke Desa Sidorejo, Wakil Bupati Kepahiang Zurdi Nata, Sekda Zamzani, anggota DPRD dan Forkompinda setempat.

Turut mendamping kunjungan Gus Menteri, Direktur Pelayanan Investasi Desa Ditjen Pengembangan Ekonomi dan Investasi Supriadi dan Direktur Pengembangan Sosial Budaya Ditjen Pembangunan Desa Perdesaan Bito Wikantosa.


Foto: Matin/Humas Kemendes PDTT
Teks: Firman/Humas Kemendes PDTT

 

Minggu, 21 Maret 2021

Desa Mbanua Gelar Pemilihan Kepala Desa Antar Waktu

Siompu Barat - InfoBusel || Desa Mbanua, Kecamatan Siompu Barat, Kabupaten Buton Selatan melaksanakan Pemilihan Kepala Desa Antar Waktu (PAW) di Baruga Desa Mbanua, Minggu 21 Maret 2021. Pemilihan PAW digelar karena kepala desa terpilih melalui pelaksanaan pemilihan di tahun 2019 atas nama Bardin, meninggal dunia pada 13 April 2020 lalu.

Kepala Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pemerintahan Desa dan Kelurahan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Buton Selatan, La Ode Maaruf, S.Sos mengatakan, dasar Pemilihan Kepala Desa Antar Waktu (PAW), yaitu Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan pelaksana UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Permendagri Nomor 112 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Kepala Desa.

Selanjutnya, Perda Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pilkades, Perbup Nomor 26 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Kepala Desa dan Keputusan Bupati Buton Selatan Nomor 323 Tahun 2017 tentang petunjuk teknis Pemilihan Kepala Desa antar waktu.

Dikatakan penyebab terjadinya Pemilihan Kepala Desa antar waktu (PAW) disebabkan dua hal. Pertama mengundurkan diri dan kedua dimundurkan karena terkait persoalan hukum dan meninggal dunia sesuai amanah Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 yang ditindaklanjuti dalam bentuk peraturan pemerintah Nomor 43 tahun 2014.

La Ode Maaruf, S.Sos menjelaskan, pemilihan Kades antar waktu Desa Mbanua berjalan sesuai tahapan yang diatur dalam Undang-undang Nomor 6 tahun 2014, namun sedikit mengalami keterlambatan pelaksanaan yang disebabkan biaya pilkades. Sebab biaya pilkades dibebankan pada APBDesa dan di tahun 2020 Pemerintah Desa tidak mengalokasikan Biaya pilkades pada perubahan APBDesa-Nya,

"Di awal tahun 2021, saat Pemerintah Desa menggelar Musyawarah Desa atau yang kita kenal dengan istilah Musdes telah mengalokasikan anggaran Pilkades Antar Waktu," katanya.

Ditambahkan, pendaftaran Calon Kepala Desa Antar Waktu Desa Mbanua dilaksanakan awal Maret. Sementara penetapan Calon kades dilaksanakan 8 Maret 2021 dan telah ditetapkan 3 calon kades antara lain, nomor urut 1 La Suudi, nomor urut 2 La Raiza, dan nomor urut 3 La Baiza.

Pelaksanaan pemilihan disepakati melalui Musyawarah Desa. Masing-masing calon, nomor urut satu La suudi memperoleh 121 suara, nomor urut 2 La Raiza 136 suara, dan nomor urut 3 La Baiza 68 suara.

"Berdasarkan hasil musyawarah desa, Pemilihan kepala desa antar waktu Desa Mbanua dimenangkan La Raiza dengan perolehan 136 suara," tandasnya.

 

Sumber: Kominfo Buton Selatan


Rabu, 10 Maret 2021

Kemendes PDTT Targetkan Affirmasi Kades Berjalan Tahun 2021

Jakarta – InfoBusel || Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) kembali menggelar rapat dengan Forum Perguruan Tinggi untuk Desa (Pertides) secara virtual pada Rabu (10/3).
 
Rapat  kali ini membahas pematangan dan percepatan afirmasi bagi Kepala Desa, Perangkat Desa sampai dengan Pendamping Desa yang berprestasi.
 

Nantinya, Kepala Desa, Perangkat Desa dan   Pendamping Desa yang memenuhi syarat mendapatkan gelar sarjana S1 dapat mendaftar untuk mengikuti program kuliah Rekognisi Pembelajaran Lampau atau Recognition of Prior Learning (RPL) di perguruan tinggi yang diinginkan.
 
Adapun kuliah program RPL yang dimaksud adalah penyetaraan akademik atas pengalaman kerja atau pelatihan bersertifikasi untuk memperoleh kualifikasi pendidikan tinggi di berbagai Program Studi.
 
Sekretaris Jenderal Kemendes PDTT, Taufik Madjid, terus berupaya agar program afirmasi ini bisa segera dieksekusi. Oleh karena itu, payung hukum sangat dibutuhkan untuk menaungi program afirmasi ini.
 
“Saya kira itu (payung hukum) akan melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” ungkapnya.
 
Taufik mengatakan, setidaknya dua regulasi atau payung hukum untuk menaungi program afirmasi ini. Pertama adalah kesempatan bagi perguruan tinggi. Kedua, adalah standar. 
 
Pertama adalah memberikan kesempatan pada perguruan tinggi di Indonesia untuk membuka RPL. Terkait dengan kriteria, standar kompetensi dan program studi  menyesuaikan perguruan tinggi.
 
“Diharapkan, dalam Pertides ini bisa melahirkan sarjana-sarjana terapan, baik D4, S1, S2, bahkan S3 terapan. Tapi perlu pertama yang harus kita percepat adalah payung hukum untuk memberikan kesempatan bagi perguruan tinggi,” jelasnya.
 
“Regulasi yang kedua adalah standarnya. Apa saja standar yang kita pakai bisa diakomodasi di dalam regulasi baik dalam bentuk keputusan Dirjen Dikti atau Peraturan Dirjen Dikti, atau apa pun namanya,” sambungnya.
 
Menurutnya, dua hal itulah yang harus dipercepat agar program afirmasi bisa dieksekusi pada tahun 2021. Meski begitu, Ia secara tegas menolak narasi keluar ijazah gampang, bahkan soal isu jual beli ijazah.
 
“Nah kita sepakat tidak berpikir demikian, karena ada standardisasi yang harus dijalankan,” tutupnya.
 
Turut hadir dalam seluruh pejabat eselon satu Kemendes PDTT, Ketua forum Pertides Prof. Panut, perwakilan dari Kemendagri dan Kemendikbud, serta rektor-rektor yangg tergabung dalam forum Pertides.
 
Foto: Matin/Humas Kemendes PDTT
Teks: Rifqi/Humas Kemendes PDTT

 

Selasa, 09 Maret 2021

BLT dan PKTD Dana Desa Dongkrak Aktivitas Ekonomi di Desa

Jakarta – InfoBusel || Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar menjadi narasumber dalam Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Tahun 2021 dengan tema Tangguh Hadapi Bencana yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Selasa (9/3). 
Mengawali paparannya, pria yang akrab disapa Gus Menteri menjelaskan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika Pandemi  COVID-19 mulai masuk di Indonesia. Ia mengatakan, setidaknya ada dua arahan Presiden terkait dengan COVID -19.
“Yang pertama jaga kesehatan, yang diistilahkan Pak Presiden itu rem. Jangan sampai terjadi peningkatan atau penyebaran  COVID-19. Kemudian yang kedua jangan sampai ekonomi terpuruk, karena remnya ditekan terlalu kuat, makanya gasnya harus ditekan,” jelas Gus Menteri.
Menurutnya, dua hal tersebut, antara gas dan rem harus dilakukan secara seimbang. Begitu juga terkait dengan penanganan COVID-19 di desa. 
Gus Menteri mengatakan, terkait dengan pemanfaatan dana desa pada 2020 digunakan untuk dua hal, yang pertama untuk kepentingan menahan COVID-19 dan penguatan aktivitas ekonomi di desa.
“Jangan sampai (COVID-19) beredar atau berkembang, tapi bagaimana ekonomi warga tetap berjalan. Nah, dana desa pada saat itu digunakan untuk dua hal, menahan COVID-19 dan penguatan ekonomi masyarakat,” ungkap Gus Menteri.
Terkait dengan menahan COVID-19, dana desa digunakan untuk penanganan COVID-19 di desa melalui kegiatan relawan desa lawan COVID-19. Sampai dengan Desember 2020, dana desa yang terpakai untuk menahan COVID-19 di desa sekitar Rp 3,2 Triliun.
Adapun tugas-tugas relawan desa lawan COVID-19 adalah melakukan sosialisasi kepada warga masyarakat desa terkait apa itu COVID-19 dan bagaimana menghindari COVID-19. 
Salah satu yang dilakukan relawan desa lawan COVID-19 adalah menyiapkan sarana dan prasarananya. 
Misalnya, menyiapkan tempat cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, kemudian sosialisi protokol kesehatam yang dikeluarkan oleh BNPB atau Satgas COVID-19, juga melakukan penyemprotan lingkungan dengan menggunakan cairan disinfektan. Juga menyiapkan tempat isolasi.
“Ini cukup  efektif, karena kemudian warga masyarakat yang dari luar, yang tinggal di rantau kemudian ketika pulang kampung dan masuk ODP waktu itu kita ingat, ODP harus isolasi. Yang pertama kalau bisa isolasi mandiri sesuai dengan imbauan BNPB dan kementerian kesehatan atau Satgas COVID-19,” jelas Gus Menteri.
“Kalau tidak bisa, maka harus mengikuti protokol kesehatan yang diterapkan di desa dengan menempati ruang isolasi yang disediakan oleh desa dan itu juga menggunakan dana Desa. Nah dari situlah maka terjadi penekanan yang cukup rendah atau kuat terkait dengan penyebaran COVID-19,” sambungnya.
Kemudian pada sektor ekonomi, lanjut Gus Menteri, setidaknya ada dua hal yang dilakukan dengan menggunakan dana desa sesuai dengan arahan Presiden Jokowi.
Pertama, padat karya tunai desa (PKTD). Pada pelaksanaannya, PKTD memiliki spesifikasi tertentu. PKTD hanya melibatkan kelompok warga miskin, kelompok penganggur atau kelompok marginal lainnya.  Jadi, ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi untuk PKTD.
“Itulah makanya PKTD tidak ada pekerjaan yang membutuhkan skill yang tinggi, karena memang targetnya misalnya pembersihan gorong-gorong, kemudian pengerasan jalan setapak dan seterusnya, nah itu semuanya melibatkan warga masyarakat dan kemudian dikasih upah dengan menggunakan dana desa,” katanya.
Penguatan ekonomi yang kedua adalah untuk meningkatkan daya beli warga masyarakat. Oleh karena itu, dana desa digunakan untuk jaring pengaman sosial yang disebut dengan BLT dana desa.
“Alhamdulillah BLT dana desa tersalur dengan bagus karena dilakukan pendataan di tingkat RT oleh relawan Desa lawan COVID-19 dengan jumlah setiap RT di data oleh 3 orang warga RT itu sendiri,” ungkapnya.
Selain itu, dari pendataan yang dilakukan relawan desa lawan COVID-19 diperoleh sekitar 8 juta keluarga penerima manfaat yang kemudian dari 8 juta itu hampir 2,5 jutanya adalah perempuan kepala keluarga (PEKKA) yang secara teori  seharusnya ia menerima seluruh program jaring pengaman sosial yang ada di pemerintah.
Kenyataannya, sampai dengan pendataan yang dilakukan oleh relawan desa lawan COVID-19 di tingkat RT, baru saat itu PEKKA mendapatkan jaring pengaman sosial melalui BLT dana desa. Menurutnya, itu salah satu kesuksesan yang diperoleh dari penerapan BLT dana desa, yang pendataannya dilakukan oleh warga masyarakat di tingkat RT itu sendiri.
“Dua hal itulah yang kemudian mendongkrak ekonomi di desa, daya beli masyarakat tentu meningkat di samping jaring pengaman sosial yang sudah dilakukan oleh Kemensos dan kementerian lain termasuk pemerintah daerah baik kabupaten maupun provinsi,” terangnya.
 
Foto: Mugi/Humas Kemendes PDTT
Teks: Rifqi/Humas Kemendes PDTT

 

Dinilai Efektif, Dana Desa 2021 Dilanjutkan Untuk Penanganan Covid-19

Jakarta – InfoBusel || Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar mengatakan,  Dana Desa  2021 dilanjutkan untuk penanganan COVID-19, utamanya terhadap desa-desa yang masuk dalam zona PPKM Mikro.
Hal itu ia katakan saat menjadi narasumber dalam Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Tahun 2021 dengan tema Tangguh Hadapi Bencana yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Selasa (9/3).
Menurutnya, penanganan COVID-19 di tingkat desa cukup efektif. Oleh karena itu, ia akan terus memonitor perkembangan dana desa yang dialokasikan untuk COVID-19 di desa.
“Dan Alhamdulillah terus kita pantau, berjalan dengan bagus. Seluruh pendanaan di tingkat desa sesuai dengan tanggung jawab dan kewajiban yang diberikan oleh Satgas COVID-19 bisa dilakukan dengan menggunakan dana desa. Dan ini terus kita monitor,” ungkapnya.
Pria yang akrab disapa Gus Menteri ini menjelaskan, sampai dengan 8 Maret 2021, penyerapan Dana Desa secara nasional sudah mencapai pada 31% atau 23.096 desa.

Sementara itu, di lokasi PPKM Mikro, per 8 Maret dari Rp 24 Triliun sudah tersalur RP 3,2 Triliun atau 13 %.
Menurutnya, total dari seluruh dana yang sudah tersalur digunakan untuk berbagai hal. Misalnya untuk pembiayaan operasional posko gerbang desa atau posko tanggap COVID-19, istilahnya macam-macam, sesuai dengan kearifan lokal yang ada di desa.
“Kita memberikan ruang yang seluas-luasnya dari desa untuk memberikan nama sesuai dengan kearifan lokal masing-masing. Karena pada hakikatnya, desa memiliki kebiasaan-kebiasaan yang sudah berjalan dan ini terus kita pertahankan,” jelas Gus Menteri.
Ia berharap, dengan dilanjutkannya dana desa untuk COVID-19, yang di dalamnya  terdapat bantuan langsung tunai (BLT) dana desa serta relawan desa lawan COVID-19, bisa meminimalisir penyebaran COVID-19 di desa, serta bisa menguatkan ekonomi masyarakat di desa.


Foto: Mugi/Humas Kemendes PDTT
Teks: Rifqi/Humas Kemendes PDTT

 

Bahas Keterpaduan Data Basis SDGs, Pemda Busel Selenggarakan Rakor Bersama OPD, Camat dan TAPM

Batauga – InfoBusel || Dalam rangka peningkatan koordinasi dan sinergitas pembangunan daerah, Pemerintah Daerah Kabupaten Buton Selatan menyelenggarakan Rapat Koordinasi Bersama Kepaa OPD, Camat dan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Buton Selatan, pada Senin, 8 Maret 2021 bertempat di Aula Kantor Bupati Buton Selatan.  Rapat yang dihadiri langsung oleh Bupati Buton Selatan, H. La Ode Arusani tersebut membahas tentang pendataan SDGs Desa serta pembinaan kegiatan pembangunan desa oleh Camat.  

Dalam rapat tersebut, Bupati menekankan agar peran Camat serta pendamping dalam melakukan pembinaan kepada desa harus lebih ditingkatkan dan lebih tegas jika ada kepala desa yang tidak mengikuti aturan yang semestinya.  “Tolong para Camat agar lebih  ditingkatkan lagi pembinaannya serta lebih tegas sehingga pengelolaan dana desanya lebih baik, begitupun pendampingan dari para pendamping, harus lebih ditingkatkan sehingga pembangunan desa semakin baik” lanjut Bupati Buton Selatan.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas PMD Kab. Buton Selatan, Ahmad Syahroni, SE menyampaikan bahwa tujuan penyelenggaraan Rapat Koordinasi ini dalam rangka pemutakhiran data IDM yang secara rutin dilakukan setiap tahun, hanya di tahun 2021 ini pemutakhiran data IDM berbasis SDGs Desa. ”Pemutkhiran data IDM berbasis SDGs Desa ini menghasilkan banyak elemen data, dan pemutakhiran data ini menjadi dasar bagi Kemeterian Keuangan dalam penentuan besaran Dana Desa untuk tahun 2022, olehnya itu sayang sekali jika elemen-elemen data yang dikumpulkan oleh relawan di desa tidak dipergunakan oleh OPD teknis, sehingga kita butuh kolaborasi dengan melibatkan para pendamping, fasilitator serta penyuluh lapangan yang semuanya berbasis di desa” tuturnya.  Lebih lanjut Ahmad Syahroni, SE menyampaikan bahwa pemutakhiran data IDM berbasis SDGs dengan kolaborasi data tersebut dapat mewujudkan tujuan Peraturan Presiden No 39 tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia, menghasilkan data yang akurat, mutakhir, terpadu, dapat dipertanggungjawabkan dan mudah diakses.

Dalam penjelasan teknis pemutakhiran data berbasis SDGs, TAPM Buton Selatan, Amirudin Majid menguraikan bahwa banyak isu-isu yang berkembang di level desa terkait data ini, misalnya adanya penetapan kategori sasaran keluarga miskin yang berbeda antara stakeholder terkait, isu lainnya adalah data base desa cenderung berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan proyek atau program yang masuk ke desa, belum tersedianya data profile desa, pendataan bansos masih memposisikan desa sebagai obyek, bukan sebagai subyek, serta belum maksimalnya sinkronisasi perencanaan daerah dan desa.  “Harapan kita dengan adanya kolaborasi stakeholder dalam pemutakhiran data desa berbasis SDGs ini dapat menjawab isus-isu tersebut, dengan melakukan uji publik atas hasil pendataan relawan tersebut melalui musyawarah desa yang dihadiri oleh para stakeholder dan instansi terkait, termasuk para pendamping, fasilitator maupun penyuluh yang berbasis di desa” lanjutnya.

Rapat koordinasi yang dipandu oleh Assisten III Setda Busel, La Ode Mpute, ini mendapat sambutan positif dari para peserta yang hadir, dalam rangka mewujudkan satu data desa yang akurat dan mutakhir.  Dalam pertemuan ini dihadiri oleh Sekda Busel,  Assisten I Setda Busel, para Kepala OPD, para Camat dan TAPM Buton Selatan.


Penulis : La Taane (TA TTG/PIC MIP P3MD Busel)

 

Minggu, 07 Maret 2021

Gus Menteri: Pengelola Desa Wisata Harus Kreatif dan Aktif di Media Sosial

Pasuruan – InfoBusel || Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar mengimbau pengelola desa wisata untuk lebih kreatif dan aktif mempromosikan desa wisata di media sosial.
Hal itu ia sampaikan saat memberikan Keynote Speaker dalam Meet and Greet dengan pegiat Desa Wisata yang diselenggarakan Yayasan Stapa Center dengan tema Pemulihan Ekonomi Desa Wisata dan Strategi Keberlanjutan di Hotel Taman Dayu, Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Jumat (5/3).
Pria yang akrab disapa Gus Menteri ini mengatakan, Indonesia harus bersyukur jika dibandingkan negara-negara lain di ASEAN dalam menghadapi Pandemi COVID-19.
“Dibandingkan negara-negara lain di ASEAN Indonesia termasuk yang bagus. Indonesia memiliki ketahanan yang cukup tinggi, hampir setiap resesi dunia Indonesia memiliki ketahanan yang cukup tinggi dalam berbagai resesi yang pernah terjadi, termasuk hari ini,” jelasnya.
“Hal tersebut salah satunya adalah karena basis desa di Indonesia. Satu-satunya yang tidak minus pertumbuhannya itu pertanian, jadi semuanya minus. Termasuk pariwisata” sambungnya.
Oleh karena itu, ia mengimbau agar desa wisata bisa dipromosikan di media sosial. Menurutnya, dengan promosi yang dilakukan akan menarik wisatawan untuk berkunjung.
Namun begitu, ia juga tetap meminta agar pengelola desa wisata menerapkan protokol kesehatan yang cukup ketat agar tidak menimbulkan kluster baru.
“Pemasaran wisata dengan online itu penting, beberapa hari ini,  banyak sekali daerah-daerah wisata yang menjadi perhatian mampu mengekspose sesuatu yang aneh di media sosial akhirnya jadi viral. Makanya mengelola desa wisata itu yang kreatif, bikin yang aneh-aneh ,” jelasnya.
Sebagai informasi, turut hadir dalam pertemuan ini ialah Wakil Bupati Pasuruan, A Mujib Imron, Dinas PMD Jawa Timur, perwakilan Sampoerna,  Forkopimda, kepala desa serta pegiat desa wisata.
 
Foto: Matin/Humas Kemendes PDTT
Teks: Rifqi/Humas Kemendes PDTT

 

Senin, 01 Maret 2021

Jeruk Siompu Buton Selatan Dinobatkan Sebagai Jeruk Termanis di Indonesia

Siompu – InfoBusel || Jeruk Siompu - Buton Selatan dinobatkan sebagai jeruk termanis di Indonesia melalui Kontes Jeruk Keprok Nasional di Kota Batu, Malang, Jawa Timur, pada tahun 2016 lalu.

Bak primadona, jeruk siompu menjadi buah andalan masyarakat Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara.

Dilansir dari Indonesia.co.id, Jeruk siompu memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan jeruk di daerah lain. Buah berbobot 135-200 gram ini rasanya lebih manis dibandingkan dengan semua jenis jeruk unggulan di tanah air, seperti jeruk keprok sumatra, jeruk kalimantan, atau jeruk dari Bali dan Pulau Jawa.

Menurut Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Balitbang Pertanian Kementan, jeruk siompu masuk sebagai jeruk unggulan nasional melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian nomor 742/Kpts/TP.240/7/97. Tingkat kemanisannya jeruk siompu berada pada skala 11-12 derajat Brix.

Tumbuh hidup di perbukitan dengan struktur tanah yang kering, tampilan fisik jeruk siompu saat panen berwarna kuning emas dan daging buah orange terang. Tekstur kulitnya agak tebal, sedikit kasar serta mudah dikupas.

Jeruk siompu diketahui pernah menjadi buah-buahan untuk jamuan kenegaraan di Istana Negara pada 1990-an. Selain itu, jeruk siompu merupakan primadona tanaman buah di Pulau Siompu, Kabupaten Buton Selatan. Dari penuturan petani setempat, jeruk siompu jika ditanam di luar pulau Siompu, maka cita rasanya berubah, bahkan ada yang sampai terasa seperti jeruk nipis. 

Beberapa tahun terakhir ini, populasi jeruk siompu semakin berkurang, karena itu pemerintah daerah Buton Selatan bersama beberapa kepala desa di Kecamatan Siompu memprioritaskan pengembangan jeruk siompu ini dengan memperbanyak populasi/bibit melalui dana desa, dengan target menjadi produk unggulan desa (prudes) sekaligus wisata jeruk (agrowisata).


Penulis : La Taane (TA TTG/PIC Media Informasi dan Publikasi P3MD Buton Selatan)

BERITA POPULER

GALLERY WISATA BUTON SELATAN

PROGRESS KEGIATAN